4 Tipe Orang tua Saat Merespon Emosi Anak, Nomor 4 Paling Ideal!

04 Mei 2020 @ 22:47:56
“Jangan marah, nanti cepet tua!”
“Anak laki-laki nggak boleh nangis!”
“Kok nangis terus? Cengeng!”
“Ih.. Kok takut? Apa yang perlu ditakutin? Ngga ada apa-apa kok!”

Familiar dengan kalimat-kalimat di atas? Atau mungkin Lemoparents sering mendengar kalimat-kalimat tersebut ketika kecil? Jika Lemoparents sering mendengar kalimat tersebut, coba cek ke diri Lemoparents sendiri saat ini.

Bagaimana kondisi emosi Lemoparents? Bagaimana Lemoparents bereaksi ketika merasa marah atau sedih? Apakah Lemoparents menggunakan kalimat-kalimat di atas kepada anak ketika mereka marah, menangis, ketakutan, atau bahkan tantrum? 

Manusia terlahir dengan emosi, namun tidak semua emosi sudah 'terprogram' dalam otak kita. Ketika anak lahir, mereka memiliki reaksi emosional seperti menangis, frustasi, kelaparan, dan rasa sakit. Namun anak belajar emosi lainnya seiring mereka tumbuh.

Sebenarnya tidak ada pembagian emosi apa saja yang merupakan faktor bawaan dan emosi apa yang merupakan hasil belajar dan pengaruh sosial. Meski demikian ada delapan emosi yang dianggap emosi dasar, yaitu: marah, sedih, takut, bahagia, antusias, terkejut, jijik, dan malu. Emosi-emosi ini dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk. Misalnya, kebencian dan kekerasan berakar pada kemarahan, kecemasan berakar pada rasa takut, dan sebagainya. 

Emosi sekunder selalu terkait dengan emosi dasar dan mencerminkan bagaimana reaksi emosional kita terhadap perasaan tertentu. Emosi-emosi ini dipelajari dari pengalaman kita. Misalnya, seorang anak yang selalu dihukum ketika marah akan merasa cemas setiap kali ia merasa marah. Seorang anak yang selalu dipermalukan karena mengekspresikan rasa takutnya bisa jadi merasa malu setiap kali ia takut. Dengan kata lain, bagaimana kita bereaksi terhadap emosi anak berdampak pada perkembangan emosi anak dan kecerdasan emosional mereka. 

Sebagai orang tua sudah tanggung jawab kita untuk membantu mengajari anak cara mengelola emosinya. Anak juga belajar mengenali emosinya dari respon yang biasa orang tua berikan. Secara umum ada 4 tipe orang tua terkait respon mereka terhadap reaksi emosi anak. Yuk, simak dan kenali diri kembali, tipe orang tua seperti apakah Lemoparents selama ini?

1. Dismissing Parents: Tipe Orang Tua yang Mengabaikan Emosi Anak

Orang tua tipe pertama ini cenderung mengabaikan atau meremehkan anak ketika mereka memunculkan emosi negatif. Orangtua tipe ini seringkali menghadapi anak yang tantrum dengan berpikir “diamkan saja.. nanti juga hilang sendiri (marah/nangisnya)”. Mereka bisa juga melontarkan kalimat “Ngapain takut sih? Ngga ada apa-apa!” “Gitu aja kok takut?!” 

2. Disapproving Parents: Tipe Orang Tua yang Langsung Menghukum Anak

Tipe ke dua adalah orang tua yang langsung mengkritik dan menghukum anak ketika menampilkan emosi negatif. “Dasar cengeng! Nangis terus!” atau bahkan tak segan memukul dan  menghukum anak ketika marah atau tantrum. 

3. Laissez-Faire Parents: Tipe Orang Tua yang Menerima Emosi Anak Namun Tidak Melakukan Apa-Apa

Nah, tipe orang tua yang ketiga ini adalah tipe yang biasanya menerima emosi anak, namun tidak memberikan arahan bagaimana anak harus mengelolanya dan tidak memberikan batasan perilaku yang dibolehkan bagi anak. Tipe parenting ini juga bukan termasuk tipe pengasuhan yang efektif. Seringkali anak memunculkan masalah perilaku, masalah pertemanan, masalah emosi, bahkan self esteem yang buruk dengan pola pengasuhan orang tua seperti ini.

4. Emotion Coach Parents: Tipe Orang Tua yang Menerima Semua Emosi Anak dan Membimbingnya

Tipe orang tua yang terakhir ini adalah yang paling ideal. Ini karena mereka berusaha menerima berbagai emosi anak (namun tidak semua perilaku anak), lalu membimbing  melalui momen emosional anak dan membimbing anak untuk menyelesaikan masalah secara tepat. 

Anak dari orangtua tipe ini lebih mampu menenangkan diri ketika marah, memiliki kemampuan untuk fokus dan atensi yang lebih baik, lebih baik dalam berinteraksi dengan orang lain, lebih mudah dalam memahami orang lain, serta memiliki performa akademis yang lebih baik dibandingkan anak dari ketiga tipe pengasuhan lainnya. 

Pertanyaannya, bagaimana para Emotion Coach Parents ini mengatasi momen ketika anak mengamuk, marah, menangis, tantrum, dan sebagainya sehingga menjadi tipe orang tua ideal? Simak jawabannya di artikel berikutnya ya!

Artikel ini ditulis oleh Adisti F. Soegoto, M.Psi, psikolog anak dan seorang BFRP (Bach Foundation Registered Practitioner).

Artikel Terkait

Klarifikasi Atta Halilintar dan Aurel Sempat Bertengkar, Ternyata Rebutan Mie Lemonilo!
Atta juga menyiapkan makan malam romantis dengan hidangan mie instan Lemonilo kesukaan aurel..
Shella Rafiqah Ully
23 September 2020
Wow, Sehat bareng Keluarga A6! Gowes Sambil Keliling Pantai di Bali
Aktivitas bersepeda yang dilakukan keluarga Hermansyah tentunya memberi banyak manfaat kesehatan..
Shella Rafiqah Ully
22 September 2020
5 Manajemen ASIP untuk Ibu Bekerja Agar Stok ASI Tercukupi
Memerah ASI juga membutuhkan manajemen yang baik agar jumlah yang diproduksi mencukupi kebutuhan bayi..
Shella Rafiqah Ully
18 September 2020