7 Hal Penting yang Perlu Kamu Siapkan Saat Menjadi Ayah Baru

10 Jun 2020 @ 14:06:51
Masa-masa menjelang menjadi seorang ayah tentu menjadi masa yang paling menegangkan bagi seorang pria. Berbagai rasa pun bercampur aduk, mulai dari khawatir hingga bahagia menanti kehadiran buah hati.

Namun menjadi seorang ayah bukan perkara mudah. Tak hanya persiapan secara secara fisik, tetapi persiapan batin dan emosional sangatlah penting. Menyiapkan diri secara emosional sama pentingnya dengan berbagai persiapan lainnya seperti menyiapkan tempat tidur bayi, membeli berbagai perlengkapan dan kebutuhan bayi, menyiapkan nama terindah, dan lain-lain.

Sayangnya, menyiapkan diri terhadap berbagai perubahan emosi yang mungkin terjadi masih sering luput dari to do list persiapan para calon ayah. Para calon ayah banyak yang mengalami kecemasan sampai depresi.

Sebuah survey di Australia mengungkapkan bahwa 1 dari 10 calon Ayah mengalami kecemasan dan depresi selama kehamilan istri mereka. Maka dari itu, penting sekali bagi para calon ayah menyiapkan diri secara emosional, melakuan berbagai langah preventif, dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika kondisi emosi mereka mulai tidak stabil.

Dan inilah 7 hal penting untuk menjaga emotional wellbeing bagi para ayah baru.

1. Support system untuk berbagi cerita 

Kadang kamu perlu seseorang untuk mengobrol, curhat, dan diskusi mengenai berbagai tantangan yang kamu hadapi saat menjadi ayah. Tidak perlu kelompok yang formal. Support system dapat berupa teman atau sahabat sesama ayah ataupun keluarga. Support system tidak hanya berfungsi sebagai tempat bertanya atau teman diskusi. Mereka juga dapat diandalkan jika kita membutuhkan bantuan. 

2. Harapan yang realistis terhadap dirimu sendiri sebagai ayah

Coba tanyakan ke diri sendiri, kamu ingin menjadi ayah yang seperti apa? Apakah kamu akan menjadi seperti ayahmu atau figur laki-laki lain dalam masa kecilmu? Atau kamu ingin yang berbeda?

Sebelum sang bayi lahir, kamu dapat membuat daftar apa saja yang kamu sukai dari ayahmu atau figur ayah, dan apa yang tidak kamu sukai. Menuliskan daftar dapat memudahkannmu dalam mengidentifikasi figur ayah yang menurutmu ideal. 

3. Mendiskusikan pola pengasuhan bersama pasangan

Menjadi ayah merupakan momen yang membanggakan. Kamu mungkin sudah membayangkan apa saja yang akan kamu lakukan bersama buah hati. Sebelum membayangkan jauh ke depan, diskusikan dengan pasangan pola pengasuhan seperti apa yang akan kalian terapkan. 

Pastikan kamu dan pasangan memiliki kesamaan visi dalam pengasuhan anak. Diskusi mengenai pola pengasuhan sejak awal memudahkanmu dan pasangan dalam mengelola apa saja yang mungkin terjadi dalam pengasuhan, juga meminimalisir kemungkinan terjadinya konflik karena perbedaan prinsip pengasuhan.

4. Percaya diri untuk terlibat dalam pengasuhan anak dan menjalankan peran sebagai ayah

Setiap anak membutuhkan kehadiran ayahnya, membutuhkan ikatan yang kuat dan relasi yang sehat antara ayah dan anak. Setiap anak membutuhkan ayahnya, sama seperti bagaimana mereka membutuhkan ibunya.

Keterlibatan aktif para ayah dalam pengasuhan anak memiliki dampak positif jangka panjang bagi perkembangan psikologis anak. Bagaimanapun juga, para ayah memiliki cara yang berbeda dengan ibu dalam pengasuhan anak. Mulai dari mengganti popok sampai cara mereka bermain dengan anak.

Hal ini memperkaya bayi dengan berbagai pengalaman interaksi. Menurut berbagai penelitian, interaksi positif yang dimiliki bayi dengan kedua orang tua mereka membantu mereka dalam mengembangan kesehatan fisik dan mental serta memiliki daya resilensi yang lebih baik.  

5. Bersabar dan dukunglah pasanganmu

Menjadi ayah membawa perubahan besar dalam dirimu dan pasangan. Para ibu baru sering merasa cemas dan meragukan kemampuan mereka menjadi orang tua. Jangan khawatir, ini banyak dialami oleh para orang tua baru.

Sebagai ayah kadang kita terdorong untuk 'menyelesaikan masalah'. Namun, kadang yang dibutuhkan pasangan adalah kita ada di samping mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menenangkan mereka. Jika pasanganmu mengungkapkan perasaan-perasaan yang mereka alami sangat intens dan memengaruhi keseharian mereka (termasuk berdampak pada cara pengasuhan anak), segera cari bantuan profesional.

6. Sempatkan waktu untuk diri sendiri

Ketika anak lahir semua perhatian dan prioritas beralih untuk anak. Kamu dan pasangan berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan anak. Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatanmu agar kamu dapat lebih optimal dalam pengasuhan anak.

Pastikan kamu tetap memiliki waktu untuk diri sendiri seperti berolahraga, jalan pagi, bertemu teman-teman, atau menonton film. Kamu juga dapat mendukung pasangan untuk memiliki 'me time' mereka ketika mereka butuh recharge energy. Jangan lupa sempatkan untuk tidur ketika bayimu tertidur. Tidur merupakan suatu kemewahan ketika bayi masih sering terbangun di tengah malam. 

7. Jangan ragu untuk mencari bantuan jika dibutuhkan 

Kamu tidak perlu berkecil hati dan menyalahkan diri sendiri ketika kamu menghadapi hambatan dalam menjalankan peran baru sebagai seorang ayah. Kamu tidak sendirian. Kamu dapat mencari bantuan profesional seperti dokter anak atau psikolog untuk membantumu mengatasi permasalahan yang ada.

Kehadiran anak di tengah keluarga kecilmu tentu akan menjadi momen hidup yang indah dan tak akan terlupakan. Itulah mengapa untuk menyambut momen tersebut, tak hanya untuk para calon ibu, para calon ayah pun harus menyiapkan mental dan emosional dengan baik. Jangan sampai mental yang tak siap, justru akan merusak momen indah pertemuanmu dengan si buah hati.

Artikel Terkait

Klarifikasi Atta Halilintar dan Aurel Sempat Bertengkar, Ternyata Rebutan Mie Lemonilo!
Atta juga menyiapkan makan malam romantis dengan hidangan mie instan Lemonilo kesukaan aurel..
Shella Rafiqah Ully
23 September 2020
Wow, Sehat bareng Keluarga A6! Gowes Sambil Keliling Pantai di Bali
Aktivitas bersepeda yang dilakukan keluarga Hermansyah tentunya memberi banyak manfaat kesehatan..
Shella Rafiqah Ully
22 September 2020
5 Manajemen ASIP untuk Ibu Bekerja Agar Stok ASI Tercukupi
Memerah ASI juga membutuhkan manajemen yang baik agar jumlah yang diproduksi mencukupi kebutuhan bayi..
Shella Rafiqah Ully
18 September 2020