Lemonilo
Kategori
Search Icon
Cart
Lemonilo
Home Icon
Kesehatan Mental

7 Tanda Kamu Terjebak Dalam Toxic Relationship, Wajib Tahu!

Adisti F. Soegoto
Adisti F. Soegoto
15 Sep 2021
Clock Icon
10 menit
7 Tanda Kamu Terjebak Dalam Toxic Relationship, Wajib Tahu!

Familiar dengan istilah toxic relationship? Toxic relationship (dalam konteks hubungan romantis seperti pacaran atau pernikahan) terjadi ketika salah satu atau kedua pihak mengabaikan tiga komponen dasar dalam hubungan yang sehat: respect (saling menghargai), trust (saling percaya), dan affection (kasih sayang). 

Cinta saja tidak cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan, apalagi yang tidak sehat. Misalnya, pasangan tidak pernah menghargai, tidak pernah memercayai, atau tidak pernah menunjukkan kasih sayang kepada kamu. Namun kamu tidak mau mengakhiri hubungan dengan alasan masih sayang. Dalam kondisi ini, kamu akan mentolerir perilakunya yang memperlakukanmu seenaknya, bahkan hingga terjadi kebohongan dan perselingkuhan. 

Ada beberapa alasan mengapa seseorang memaklumi suatu hubungan yang tidak sehat. Bisa jadi karena memiliki self esteem yang rendah, kurang menghargai diri sendiri sehingga membiarkan orang lain dengan mudah merendahkan atau memanfaatkan diri kamu. Kamu mungkin kurang waspada dengan apa yang sebenarnya terjadi, sulit mengendalikan emosi, dan berbagai kemungkinan lainnya. Jika tidak ditangani dengan baik, berbagai hal di atas dapat menjadi pemicu suatu hubungan yang tidak sehat bahkan berpotensi menjadi abusive relationship. 

Toxic relationship dapat hadir dalam berbagai bentuk. Namun seringkali kita tidak menyadarinya, mengabaikannya, atau bahkan menganggapnya sebagai tanda cinta. Berikut ini ada beberapa tanda mungkin kamu terjebak dalam toxic relationship:


1. Kurangnya rasa percaya

Pasangan adalah seseorang untuk saling berbagi, tempat untuk menunjukkan segala kelemahan dan kerapuhan, pendukung dalam berbagai situasi. Namun jika tidak ada rasa percaya, semua hal tersebut mustahil dilakukan. Kamu akan menutupi apa yang dirasakan, tidak berani memberikan pendapat, karena khawatir akan dikritik atau khawatir image kamu akan runtuh di depan pasangan. Kurangnya rasa percaya membuat kamu tidak tampil menjadi diri sendiri, akan ada banyak hal yang  ditutupi.  


Salah satu hal yang merusak kepercayaan adalah berbohong. Kebohongan sekecil apapun akan merusak kredibilitas seseorang seiring berjalannya waktu. Saat pasangan berbohong, itu menandakan bahwa ia tidak menghargai kamu sebagai pasangan yang layak diperlakukan baik dan penuh kejujuran. Jika pasangan terus menerus berbohong atau tidak bersikap terbuka, ini menandakan kamu tidak menjalani hubungan yang sehat.


2. Komunikasi yang buruk atau kasar


Beberapa bentuk komunikasi yang buruk atau kasar antara lain: berteriak, memanggil pasangan dengan sebutan tidak pantas, berperilaku agresif (melempar barang atau merusak barang), melakukan kekerasan fisik untuk mengintimidasi atau memaksa. 

Komunikasi yang buruk juga dapat hadir dalam bentuk: silent treatment, selalu menyalahkan pasangan, memotong saat pasangan berbicara, mendengarkan untuk merespon bukan mendengarkan untuk memahami, bersikap pasif agresif, atau menggunakan bahasa kode. 

Bentuk komunikasi tersebut tidak sehat karena menunjukkan bahwa anda berdua tidak nyaman berkomunikasi secara terbuka dan jelas. Tidak ada alasan untuk bersifat pasif agresif jika seseorang mampu mengekspresikan kemarahannya secara sehat dan mengkomunikasikannya dengan baik bersama pasangan. 

Hubungan yang sehat membutuhkan komunikasi yang sehat. Utarakan apa yang kamu pikirkan dan rasakan kepada pasangan. Komunikasi yang terbuka memberikan kesempatan bagi pasangan untuk saling menghargai dan saling mendukung. 

3. Perilaku mengontrol

Pasangan tidak berhak menentukan dan mengendalikan apa yang kamu lakukan, pikirkan, dan rasakan. Perilaku mengontrol seringkali hadir dalam bentuk ancaman, seperti mengancam akan kehilangan kenyamanan finansial, kehilangan waktu bersama anak, atau hilangnya kebersamaan. Ancaman ini menimbulkan rasa takut pada banyak orang. Banyak orang yang bertahan dalam sebuah hubungan seperti ini karena rasa takut kehilangan hal-hal tersebut. 

Bentuk lain dari perilaku mengontrol antara lain:  memaksa pasangan untuk mengikuti apa yang diyakini benar, melarang pasangan untuk berbeda pendapat, harus tahu apa yang sedang kamu lakukan dan dengan siapa, berusaha mengendalikan keuangan pasangan, memisahkan pasangan dari orang-orang yang mereka sayang, selalu berada di dekat pasangan ketika ia bersama orang lain, menganggap pasangan bodoh, meminta akses ke HP, email, dan semua hal yang bersifat personal. 

4. Selalu menerima, tidak pernah memberi


Apakah kamu adalah satu-satunya pihak yang selalu berusaha membahagiakan pasangan, berusaha agar relasi ini berjalan baik, dan mengabaikan kebutuhan sendiri atau menempatkan diri di prioritas paling bawah? Hati-hati, ini bisa jadi pertanda kamu berada dalam toxic relationship

Beberapa tanda lain seperti: selalu menjadi yang pertama untuk menghubungi, jeda yang sangat lama dari mengirimkan pesan dan mendapat balasannya, pembicaraan yang satu arah, ketimpangan dalam pembagian tugas atau tanggung jawab di rumah atau dalam relationship. Jika kamu berada dalam situasi seperti ini, ada baiknya mulai menciptakan batasan yang jelas. 

5. Menyalahkan kamu atas emosinya

Menyalahkan pasangan atas emosi yang kita rasakan adalah salah satu contoh ketidakmampuan menjaga personal boundaries. Memiliki pemahaman bahwa pasangan bertanggungjawab atas apa yang kamu rasakan (dan sebaliknya), hal ini dapat mengarah ke hubungan yang saling bergantung. Semua hal sekecil apapun harus dinegosiasikan dan mendapat persetujuan pasangan. Ketika ada pihak yang bertanggungjawab atas emosi pasangannya, setiap kemarahan, kekecewaan, kesedihan, kekesalan dan berbagai emosi lainnya, kemungkinan yang akan terjadi adalah ada pihak yang menyembunyikan emosi mereka yang sebenarnya, atau ada pihak yang menggunakan emosinya sebagai alat untuk memanipulasi pasangan. 

Jika kamu berada dalam pola hubungan seperti ini, hal pertama yang perlu dilakukan adalah memahami bahwa setiap orang bertanggungjawab atas emosinya sendiri, atas apa yang ia rasakan. Terdapat perbedaan jelas antara bersikap mendukung pasangan dan bertanggungjawab atas emosi pasangan. 

6. Selalu disalahkan atas kesalahan yang terjadi di masa lalu

Pola hubungan seperti ini tidak sehat. Tidak hanya membelokkan masalah yang ada saat ini ke kesalahan di masa lalu, tetapi juga memanipulasi pasangan dengan rasa bersalahnya. Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus, kamu akan menghabiskan waktu untuk membuktikan siapa yang paling “tidak bersalah” dan bukan memperbaiki permasalahan yang ada saat ini. 

Atasi permasalahan yang ada sesuai kondisi saat ini, bukan mengungkit-ungkit apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kecuali jika masalah-masalah tersebut saling terkait. Jika seseorang terus menerus selingkuh, jelas itu merupakan masalah sama yang terus berulang. Namun jika masalah yang ada saat ini tidak ada kaitannya dengan kesalahan yang terjadi di masa lalu, tidak perlu mengaitkan atau mengungkitnya. 

7. Cemburu tanda cinta


Banyak orang menganggap cemburu tanda cinta, tidak cemburu berarti tidak sayang. Ternyata hal tersebut tidak benar lho, Lemonizen! Perilaku di atas menunjukkan sikap mengontrol dan manipulatif, serta kurangnya rasa percaya terhadap pasangan. Cobalah untuk memercayai pasangan dan berikan ruang untuk bergerak dan tumbuh. Cemburu buta dan perilaku mengontrol mencerminkan insecurity dan perasaan tidak berharga yang ada dalam diri. Fokus untuk memperbaiki diri, memperbaiki akar masalah yang membuat kamu atau pasangan cemburu. 

Perjalanan mengubah toxic relationship menjadi hubungan yang sehat tidaklah mudah, meskipun bukan hal yang mustahil. Hal tersebut dapat dilakukan selama: kedua belah pihak menyadari ada masalah yang perlu diperbaiki, kedua belah pihak ingin berubah dan sama-sama berusaha untuk menjadi lebih baik, dan kedua belah pihak mampu berkomunikasi yang sehat tanpa adanya judgement atau saling menyalahkan. 

Kamu mungkin membutuhkan bantuan profesional seperti psikolog atau marriage counselor untuk memperbaiki hubungan kalian. Namun, jika memutuskan untuk mengakhiri hubungan, hal tersebut sah-sah saja. Mengakhiri, mempertahankan, atau memperbaiki hubungan, semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu bebas memilih, namun perlu memahami konsekuensi yang akan timbul dari keputusan yang sudah dibuat. 


Semoga informasi yang diberikan dapat bermanfaat, Lemonizen!

Komentar
Belum ada komentar.

Customer Service

(+62) 21 4020 0788

Alamat

Unifam Tower Unit 2FG
Jl. Panjang Blok A3 No. 1 Kedoya Utara, RT.2/RW.7
Jakarta Barat, DKI Jakarta 11520
Indonesia

Ikuti Kami

Download Aplikasi Kami

Lemonilo
Lemonilo
Copyright © 2016-2021 PT. Lemonilo Indonesia Hebat. All rights reserved.