Anak Menjadi Pelaku Bullying, Apa yang Orang Tua Harus Lakukan?

13 Feb 2020 @ 18:38:26
Saat mendapat informasi bahwa anak kita melakukan bullying pada anak lain, tentu ini akan sangat mengejutkan dan menyita perhatian. Lemomoms dan Lemodad mungkin ingin menyalahkan anak lain atau orang dewasa yang menyampaikan informasi ini. 

Lemomoms perlu jujur pada diri sendiri dalam menemukan kebenaran dalam berita ini. Jika anak bertindak agresif, Lemomoms tentunya ingin membantu si buah hati untuk memiliki interaksi yang lebih positif dengan anak lain. Anak membutuhkan orang tua di sampingnya saat ini, untuk membantu mereka mengontrol perilakunya. Lalu apa yang harus Lemomoms dan Lemodad lakukan jika menghadapi anak yang menjadi pelaku bullying?

1. Jangan serta merta menuduh atau langsung memberikan label ‘bully’ pada anak

Ajak anak bicara mengenai kejadian tersebut dan ajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui alasan dia melakukannya. Ajak anak diskusi mengenai apa saja yang dapat ia lakukan saat menghadapi situasi tersebut tanpa harus bersikap kasar. Lemomoms bisa mengajari anak cara baru mengatasi masalah atau konflik dengan anak lain dengan melakukan role play bersama agar dia dapat belajar cara berbeda dalam merespon anak lain.

2. Biarkan anak belajar dari temannya yang lebih besar dan bertanggung jawab

Jika memungkinkan, atur waktu agar anak Lemomoms dapat menghabiskan waktu bersama anak lain yang lebih besar dan lebih bertanggung jawab. Lemomoms dapat mencari anggota keluarga lain ataupun teman yang memiliki anak dengan karakter tersebut. Anak yang lebih besar itu nantinya berperan menjadi mentor yang dapat mengajarkan social skill pada anak Lemomoms melalui contoh langsung. 


3. Hindari berlaku kasar kepada anak dengan dalih menerapkan disiplin

Mungkin adakalanya Lemomoms dan Lemodad merasa harus menerapkan disiplin kepada anak dengan memberi hukuman keras atau kasar kepadanya. Tapi ingat, ada konsekuensi yang harus Lemomoms dan Lemodad tanggung dengan menerapkan perilaku kasar tersebut. 

Membentak, memukul anak, atau memberi hukuman yang keras hanya akan memupuk perilaku agresif pada diri anak. Jadi, disarankan untuk menerapkan konsekuensi yang konstruktif atau membangun seperti minta ia melakukan pekerjaan rumah atau menulis surat permintaan maaf kepada anak yang disakiti.

4. Beri dukungan aktif pada anak untuk mengikuti kegiatan yang bermanfaat

Ajak anak mengurangi waktu bermain dengan temannya yang berperilaku agresif. Di sisi lain, dukung ia untuk terlibat aktif pada kegiatan ekstrakurikuler atau berbagai aktivitas yang bermanfaat sesuai dengan usia dan minatnya. Berpartisipasi dalam kelompok seringkali memberikan kesempatan pada anak untuk bersosialisasi yang mungkin selama ini masih kurang. Lemomoms juga dapat mengikutsertakan anak pada kelas social skill training yang diadakan di sekolah, klinik tumbuh kembang, maupun komunitas keagamaan.

5. Ikutkan anak pada kelas bela diri yang berkualitas

Ilmu bela diri yang murni seringkali mengajarkan ketenangan, kontrol diri, dan saling menghargai. Saat mengikutsertakan anak pada kelas bela diri yang berkualitas, Lemomoms perlu melakukan survey dengan mengunjungi atau observasi kelas tersebut lebih dulu, diskusi bersama guru, barulah kemudian mengungkapkan ide ini pada anak.

Sampaikan apa yang menjadi perhatian Lemomoms terkait perilaku anak dan apa yang Lemomoms harapkan bisa anak dapatkan melalui kelas bela diri ini. Guru yang berpengalaman biasanya mampu meyakinkan Lemomoms bahwa pilihan kelas ini yang sesuai dengan kebutuhan anak. Olahraga bela diri mampu mengajarkan anak bagaimana mengendalikan kekuatan fisiknya serta mengembangkan disiplin diri.

6. Bawa anak untuk melakukan konseling psikologis jika ia tak berhenti berperilaku agresif

Jika anak berulang kali memunculkan perilaku agresif, bisa jadi ia juga akan menampilkan perilaku negatif lain. Ia bisa saja menampilkan tanda-tanda kepribadian dengan self esteem yang rendah, memiliki masalah di sekolah, sering menyendiri, dan kesulitan mengendalikan amarahnya. Jika demikian, akan lebih baik jika Lemomoms mengajak anak untuk melakukan konseling psikologi agar dapat mengetahui akar masalah munculnya masalah perilaku tersebut, serta mengajarkan anak untuk mengelola emosi dan mengendalikan perilakunya sehingga ia dapat bersosialisasi dengan lebih baik lagi. 

Sebagai orangtua, kita tentunya memiliki berbagai emosi ketika mengetahui anak kita melakukan bullying, bahkan pasti tak luput dari merasa bersalah. Tapi, di saat-saat seperti ini kita dituntut untuk membangun empati lebih dalam sehingga bisa menyikapi masalah ini lebih proaktif dibandingkan reaktif. Kalau Lemomoms punya pengalaman terkait kasus anak yang menjadi pelaku bullying, boleh share ke media sosial Lemonilo ya!

Artikel ini ditulis oleh Adisti F. Soegoto, M.Psi, psikolog anak dan seorang BFRP (Bach Foundation Registered Practitioner). Adisti menulisnya khusus untuk membantu orang tua menghadapi anak yang menjadi korban bullying.

Artikel Terkait

Klarifikasi Atta Halilintar dan Aurel Sempat Bertengkar, Ternyata Rebutan Mie Lemonilo!
Atta juga menyiapkan makan malam romantis dengan hidangan mie instan Lemonilo kesukaan aurel..
Shella Rafiqah Ully
23 September 2020
Wow, Sehat bareng Keluarga A6! Gowes Sambil Keliling Pantai di Bali
Aktivitas bersepeda yang dilakukan keluarga Hermansyah tentunya memberi banyak manfaat kesehatan..
Shella Rafiqah Ully
22 September 2020
5 Manajemen ASIP untuk Ibu Bekerja Agar Stok ASI Tercukupi
Memerah ASI juga membutuhkan manajemen yang baik agar jumlah yang diproduksi mencukupi kebutuhan bayi..
Shella Rafiqah Ully
18 September 2020