Catat, Ini 5 Hoax Seputar Tuberkulosis yang Harus Kita Tepis!

08 Apr 2019 @ 22:37:45
Bukan informasi baru kalau Tuberkulosis jadi penyakit menular yang menakutkan dan momok bagi orang-orang di dunia. Data WHO tahun 2016 malah menyebutkan kalau Tuberkulosis (TB), penyakit menular akibat kuman Mycobacterium tuberculosis ini masih menempati peringkat ke-10 penyebab kematian tertinggi di dunia. Pun, Indonesia termasuk dalam 6 besar negara dengan kasus Tuberkulosis terbanyak. Kenapa ya sebaran penderita TB terus meningkat?

Usut punya usut, salah satu penyebab membludaknya penderita TB di Indonesia adalah hoax yang terus berkembang. Hoax atau mitos yang berkembang ini membuat pengidap TB enggan mengungkapkan bahwa dirinya terjangkit TB karena takut dikucilkan. Dampaknya, pencegahan dan pemberantasan tuberkulosis jadi sangat sulit dilakukan. Solusi satu-satunya adalah, memutus mata rantai hoax dan menemukan pengidap TB untuk diobati secara rutin dan berlanjut hingga sembuh. Yuk, bantu tepis 5 hoax seputar tuberkulosis ini agar dapat membantu penyembuhan mereka!

Hoax: Tuberkulosis adalah penyakit kutukan

Perlu diketahui bahwa Tuberkulosis bukanlah penyakit kutukan. Anggapan ini muncul sebab tuberkulosis seringkali menyerang keluarga hingga beberapa generasi. Padahal ini terjadi karena penularan TB memang melalui udara sehingga besar kemungkinan yang akan terjangkit adalah mereka yang tinggal dalam jarak sangat dekat seperti keluarga. 

Pengidap TB tak perlu malu mengakui sedang mengidap penyakit ini karena takut dianggap sebagai kutukan dan dikucilkan dari masyarakat. Menyembunyikan TB malah dapat mengganggu siklus pengobatan dan memperlambat pemulihan.

Hoax: Tuberkulosis adalah penyakit turunan

Tuberkulosis sama sekali tidak berhubungan dengan keturunan. Tidak ada peran genetika dalam transmisi dan akuisisi TB karena penyakit menular ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meskipun benar bahwa tuberkulosis dapat menginfeksi anggota keluarga yang sama karena kemungkinan besar tertular melalui udara.

Mulai sekarang, pengidap TB tak perlu merasa bersalah karena dianggap membawa penyakit pada keturunan. Sekali lagi, TB tak ada hubungannya dengan gen!

Hoax: Tuberkulosis adalah penyakit kelas sosial rendah

TB adalah penyakit yang menular melalui udara dan dapat dengan mudah ditularkan oleh siapa saja, kaya atau miskin. Namun, kurangnya ventilasi, lingkungan kumuh padat penduduk, buruknya akses dan perawatan kesehatan serta kekurangan gizi membuat orang lebih mudah terjangkit TB. 

Survei Prevalensi Tuberkulosis 2013-2014 oleh Kemenkes RI menggambarkan sakit akibat TB menurut kuintil indeks kepemilikan menunjukkan tidak ada perbedaan antara kelompok terbawah sampai dengan menengah atas. Ini artinya, risiko TBC dapat terjadi pada hampir semua tingkatan sosial ekonomi.

Hoax: TB dapat ditularkan melalui peralatan makan

Meski menular dari udara, mengasingkan para pengidap TB dari lingkungan masyarakat bukanlah hal yang tepat. Penting diketahui, tuberkulosis tidak akan menular dengan kontak fisik seperti bersalaman dan berpegangan tangan, berbagi makanan dan minuman, dan menggunakan alat makan yang sama dengan pengidap. 

Jika penderita menggunakan gelas atau sendok dan tidak batuk disekitar alat makan tersebut, maka bakteri tidak akan menyebar ke peralatan makan. Sebab, untuk penyakit yang menjangkiti paru-paru, maka bakteri hanya akan menjangkiti paru-paru dan hanya bisa ditularkan oleh lendir yang berasal dari paru-paru melalui batuk. (Penjelasan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong, dokter umum lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia).

Hoax: Tuberkulosis tidak bisa disembuhkan

Pasien TB bisa sembuh asalkan patuh! Pakar Paru Indonesia Dr dr Erlina Burhan, SpP(K) mengatakan TB bisa disembuhkan secara total. Syaratnya, pengobatan rutin dilakukan selama 6 bulan berturut-turut sesuai dengan hasil diagnosis dokter. 

Pola konsumsi obat yang berlanjut ini adalah satu-satunya kunci menyembuhkan TB sebab jika konsumsi obat terputus karena penderita sering lupa minum atau sengaja berhenti karena sudah merasa sehat ini akan membahayakan si pengidap TB. Karena saat berhenti minum obat, bakteri menjadi resisten atau kebal terhadap obat yang sebelumnya sehingga bakteri terus berkembang biak di dalam tubuh dan penyakit jadi semakin parah.

Artikel Terkait

Isi Liburan Anak dengan Main Sambil Belajar di Wonderfest 2019
Hore, libur telah tibaaaaa! Masa-masa liburan sekolah pasti sangat ditunggu oleh anak-anak karena mereka bisa bermain da..
Shella Rafiqah Ully
20 Juni 2019
Pentingnya Ajak Anak Bermain di Luar Ruangan
Pilihan mengajak anak main di luar ruangan seringkali memunculkan dilema bagi orang tua. Tak dapat dipungkiri masih bany..
Shella Rafiqah Ully
19 Juni 2019
3 Tanda Bahwa Kamu Sudah Sehat Lahir Batin di Hari Fitri
Ramadan sudah berakhir sehingga kewajiban berpuasa sebulan penuh usai sudah. Kini, seluruh umat muslim di dunia tengah m..
Shella Rafiqah Ully
04 Juni 2019