Kiat Mengelola Stres Bagi Orang Tua Selama Pandemi Coronavirus

09 Apr 2020 @ 14:51:22
Dear Lemoparents, kita pasti bisa mengatasi masa-masa sulit pandemi ini!

Pandemi COVID-19 tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik kita, namun juga membuat kesehatan mental kita dalam kondisi yang rapuh. Banyak dari kita yang tak bisa menghalau rasa stres, cemas, takut, putus asa, kewalahan, marah, dan panik menghadapi situasi ini. Berbagai perasaan tidak nyaman ini bukan hanya dirasakan oleh Lemoparents, namun juga anak-anak. Apalagi ketika intensitas emosi kita tinggi, bukan tidak mungkin anak juga terdampak dari emosi yang kita rasakan. 

Kondisi yang kita hadapi saat ini memang penuh tantangan. Jika Lemoparents merasa stres, ingat bahwa anda tidak sendiri. Bagi Lemoparents yang selain Work from Home (WFH) juga harus mengajari anak yang School From Home (SFH), tantangan kita semakin tinggi. Ada peran baru 'sebagai guru' yang kini resmi kita sandang. 

Memang, jauh sebelum pandemi ini  kita senantiasa mendidik dan menstimulasi anak sesuai usia dan tahap perkembangannya. Namun saat ini kondisinya berbeda. Ketika materi pengajaran diberikan lebih terstruktur melalui email sekolah; yang berisi materi apa saja yang harus diajarkan pada anak hari itu, aspek apa saja yang harus dikembangkan, bagaimana metoda pembelajarannya, alat apa saja yang kita butuhkan dalam menyampaikan materi, itu semua terasa makin membebani. 

Sebelum kita membahas lebih lanjut bagaimana tips mengatur kegiatan harian selama WFH dan SFH, penting sekali untuk memvalidasi emosi kita sebagai orang tua dan anak. Validasi emosi membantu seseorang untuk lebih sadar atas apa yang ia rasakan, tanpa perlu didebat. Kegiatan ini membuat anak dan kita merasa didengarkan dan dimengerti. Kita juga dapat lebih mudah membantu anak dalam mengelola emosinya. 

Mari Jeda Sebentar, Penting untuk Bisa Kenali Emosi yang Kita dan Anak Rasakan



Sampaikan kepada anak bahwa saat ini mungkin mereka merasa frustrasi, kecewa, dan sedih karena banyak kegiatan yang ditunda ataupun dibatalkan. Situasi ini juga membuat kita khawatir atau bahkan stres karena kita tidak tahu kapan situasi ini berakhir. Tekankan pada anak bahwa it’s okay untuk merasakan berbagai perasaan itu dan kita sebagai keluarga akan bersama-sama berusaha untuk mengatasinya. 

Sama seperti anak, kita juga butuh validasi emosi. Kondisi yang terjadi saat ini dapat mengubah hidup kita dengan minimnya persiapan. Kita bisa saja merasa kesal, mudah marah, dan khawatir di saat bersamaan. Belum lagi khawatir anak kita kurang mendapat stimulasi di bidang akademis karena adanya SFH ini. “Apakah mereka cukup belajarnya?” “Apakah saya sudah benar dalam mendidik mereka?” “Anakku tidak mau mengerjakan kegiatan sekolah!” “Bagaimana kalau anakku tertinggal dibanding teman-temannya?” Mungkin kita juga bisa panik saat melihat instastory ibu lain yang menampilkan putra-putrinya sudah bisa ini itu sedangkan anak kita sendiri belum. 

Lemoparents, coba untuk jeda sejenak dan amati semuanya satu persatu. Kondisi yang kita alami saat ini bukan darurat pendidikan. Anda juga bukan institusi bimbingan belajar yang sedang menyiapkan putra putri anda menempuh ujian atau sukses masuk perguruan tinggi. Anda tidak perlu memforsir anak anda di bidang akademis untuk saat ini. Bukan itu yang kita butuhkan. Kita semua stres, kita semua lelah. Orang dewasa yang stres tidak mungkin dapat mengajar anak yang stres. Tidak akan efektif dan hanya akan memicu stres yang lebih tinggi. 

Lakukan Berbagai Aktivitas Bersama yang Bisa Meredakan Stres



Hal yang paling dibutuhkan saat ini oleh kita sebagai orang tua dan anak adalah berbagai aktivitas yang dapat meredakan stres. Coba untuk fokus pada connectedness antara Lemoparents dan anak. Fokus pada relasi yang berkualitas antara Lemoparents dan anak. 

Ciptakan rasa aman, nyaman, dan tenang di tengah situasi yang tidak menentu ini. Ada hal yang jauh lebih penting dibanding belajar baca tulis atau belajar berhitung untuk saat ini; pelukan hangat, udara segar, bermain bersama anak, mendongeng, makan bersama keluarga, menikmati mentari pagi, dan yang terpenting adalah kesehatan mental kita semua

Sangat bisa dipahami jika dalam situasi ini Lemoparents tetap ingin memberikan edukasi terbaik untuk anak. Namun harap berhati-hati ketika peran kita sebagai guru malah menimbulkan konflik. Ketika kita stres, daya tahan tubuh menurun dan lebih rentan terpapar infeksi virus. Tugas utama kita sebagai orang tua di saat ini adalah menjaga anak tetap sehat, baik secara fisik maupun psikis. 



Jika Lemoparents khawatir anak tidak cukup belajar, Lemoparents dapat memberikan kesempatan anak untuk memilih kegiatan hari itu, atau merancang proses pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak. Gunakan cara yang lebih kreatif untuk menjelaskan konsep lebih besar dan lebih kecil dengan menggunakan mainan anak. 

Ajarkan anak mengenal warna dengan menggunakan sayur mayur dan buah. Stimulasi sensoris dapat diberikan melalui bermain bola di rumput tanpa alas kaki sambil menikmati cahaya matahari pagi. Lemoparents juga bisa mengajak anak menciptakan lagu untuk mencuci tangan dan bersenang-senang dengan anak di setiap kegiatannya. 

Jika tiba waktunya nanti, anak akan bersekolah kembali. Tetap melakukan aktivitas dengan mengikuti jadwal kegiatan sekolah akan membantu proses adaptasi mereka ketika kembali ke sekolah. Lemoparents dapat mulai dari menerapkan waktu tidur dan waktu makan yang sama dengan hari sekolah. 

Menciptakan jadwal harian penting sekali untuk menjaga struktur dalam keseharian anak. Lemoparents dapat melibatkan anak untuk bersama-sama membuat jadwal harian. Misalnya, pada pukul berapa mereka mau bermain balok, pada pukul berapa mereka mau bermain puzzle, kapan mereka mau membaca buku, kapan anak mau mewarnai, menggunting, dan sebagainya.

Jadwal harian tidak hanya berguna untuk anak. Jika Lemomoms dan Lemodad sama-sama WFH, maka bisa berunding untuk jadwal bersama. Misalnya, pada pukul 08.00 Lemodad menemani anak bermain bola sedangkan Lemomoms menyelesaikan tugas kantor. Pada pukul 10.00 Lemomoms menemani anak bermain balok dan Lemodad online meeting bersama rekan kerja. Ketika SFH dimulai, lakukan bersama-sama kedua orangtua maka proses edukasi anak tidak hanya menjadi beban salah satu pihak. 

Ajak juga anak bermain bersama dengan ide-ide permainan baru. Untuk menghindari anak bosan bermain dengan permainan yang itu-itu saja, Lemoparents bisa memanfaatkan berbagai benda yang ada di rumah atau mengajaknya bermain dengan permainan yang melibatkan sentuhan. Ini, tidak hanya bermanfaat untuk mengatasi stres dan bosan juga akan mengembangkan rasa percaya diri dan perkembangan emosi mereka.

Lemoparents yang saya kasihi di mana pun berada, Saat ini situasinya memang sulit, namun saya yakin kita bisa mengatasinya. Peluk hangat saya untuk anda dan buah hati. Please stay safe and healthy.

Artikel ini ditulis oleh Adisti F. Soegoto, M.Psi, psikolog anak dan seorang BFRP (Bach Foundation Registered Practitioner) sebagai dukungan untuk semua orang tua agar tetap sehat secara fisik dan mental di tengah pandemi coronavirus. 

Artikel Terkait

5 Rempah-Rempah Terbaik untuk Bantu Redakan Stres
Pikiran dan perasaan dalam kondisi buruk bisa menghambat aktivitas sehari-hari..
Shella Rafiqah Ully
16 September 2020
Jakarta PSBB Lagi? Tetap Semangat! 5 Tips ini Akan Membantumu Menjaga Mood
Meski harus kembali bekerja dari rumah jangan lupa untuk tetap berolahraga ya!..
Shella Rafiqah Ully
11 September 2020
Gangguan Psikotik Ketahui Gejala, Sebab dan Cara Mengatasinya
Gangguan psikotik adalah salah satu gangguan mental yang cukup umum terjadi, inilah cara mengatasinya..
Rizki Indra
03 September 2020