Masuki Musim Pancaroba, Jangan Abaikan DBD di tengah Pandemi Corona!

19 Jun 2020 @ 16:19:40
Di tengah pandemi COVID-19 yang jumlah korbannya semakin meningkat (data WHO per 18 Juni mencatat total 8 juta kasus secara global dengan angka kematian hingga 445 ribu), kini Indonesia masih harus menghadapi ancaman penyakit lain yang juga berisiko merenggut nyawa yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD).

Ancaman DBD semakin meningkat di musim pancaroba (masa peralihan antar dua musim ini). Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), ada 39.860 penduduk Indonesia terdiagnosa menderita DBD bahkan sejak 3 bulan pertama tahun 2020. Angka ini meningkat hingga 15.7% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Apa Penyebab Penyakit DBD?



Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengueyang terdiri dari 4 jenis dan penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk betina Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini memiliki ciri khusus garis berwarna hitam putih yang selang-seling pada kedua kakinya sehingga dapat dengan mudah dikenali.
Virus dengue umumnya ditemukan di negara beriklim tropis dan subtropis, kebanyakan di wilayah perkotaan dan pinggiran kota. 

Di Indonesia, negara yang hanya memiliki dua musim ini, kasus DBD akan meningkat di musim pancaroba sebab di musim ini hujan tetap ada namun tidak sampai menimbulkan banjir. Air bekas hujan dapat menggenang di mana saja, seperti cekungan pagar bambu, pepohonan, kaleng, ban bekas, dan atap rumah yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk. 



Pun, kedua nyamuk penyebab DBD juga dapat berkembang biak di tempat/wadah yang aman dan relatif bersih seperti di penampungan air dispenser, bak mandi atau bak penampungan air, dan tempat minum burung.

Air dalam wadah tersebut akan menjadi media untuk telur nyamuk menetas menjadi jentik, lalu setelah 10-12 hari jentik akan berubah menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk ini akan menggigit manusia sekitar pukul 9 -10 pagi dan 3-4 sore. Masa inkubasi DBD akan berlangsung kurang lebih selama 4-7 hari, biasanya setelah masa inkubasi ini barulah seseorang yang telah digigit nyamuk pemilik virus dengue akan mulai mengalami gejala DBD.

Apa Saja Gejala Terkena Penyakit DBD?



Sebenarnya virus dengue tidak hanya menyebabkan penyakit DBD tapi juga Demam Dengue (DD). Perbedaan penyakit DBD dan DD adalah biasanya DD memiliki gejala demam, sakit kepala, mual, muntah, dan ngilu pada sendi-sendi sedangkan DBD memiliki gejala serupa DD ditambah sakit pada ulu hati terus-menerus, pendarahan pada hidung, mulut, gusi, atau memar pada kulit. 

Bagaimana Pengobatan Penyakit DD atau DBD?

Pada dasarnya DBD merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri, dimana penderitanya tidak harus dirawat di rumah sakit.

Pengobatan DBD berupa terapi cairan, baik melalui infus maupun oral dan sisanya adalah pengobatan suportif untuk mengurangi gejala. Jadi, misalkan seseorang demam maka akan diberikan obat demam atau jika pasien mual dan muntah makan akan diberikan obat pereda mual dan muntah.

Sampai sejauh ini memang belum ada suatu obat yang spesifik untuk mengobati DBD. Tapi, penderita DBD bisa mengonsumsi berbagai cairan tidak hanya terbatas pada jus jambu, air kurma, ataupun air madu seperti yang banyak beredar di masyarakat. 

Berantas Penyakit DBD dengan Melakukan Pencegahan

Pemberantasan DBD dapat dilakukan dengan membasmi nyamuk Aedes aegypti sebagai pembawa virus dengue. Lemonizen bisa mulai dengan melakukan pengendalian lingkungan, karena ini adalah kunci utama pemberantasan nyamuk pembawa virus dengue. 

Lakukanlah 3M yaitu (1) Menguras bak mandi dan tempat penampungan air minimal satu minggu sekali (2) Menutup rapat-rapat tempat penampungan air, dan (3) Mengubur serta menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampung air.

Penting juga bagi Lemonizen yang memiliki vas bunga atau sarang burung untuk mengganti airnya minimal seminggu sekali serta membersihkan saluran air yang tergenang baik di atap rumah maupun di selokan jika tersumbat. 

Selain itu, kita juga bisa melakukan pengendalian secara biologis dengan memanfaatkan hewan seperti memelihara ikan cupang yang dimasukkan ke dalam kolam untuk memakan jentik nyamuk.



Terakhir, pemberantasan nyamuk pembawa virus dengue dapat dilakukan secara kimiawi yaitu dengan menaburkan bubuk abate ke tempat penampungan air setiap 2 bulan sekali dan melakukan fogging. 

Langkah 3M ini juga dapat dilengkapi menjadi 3M plus seperti menggunakan obat nyamuk baik obat nyamuk bakar, semprot, atau elektrik, menggunakan krim pencegah gigitan nyamuk, dipasangnya kawat kasa pada jendela-jendela rumah, tidak menggantung pakaian yang telah dipakai (pakaian yang digantung dapat menjadi tempat istirahat nyamuk), dan terakhir memasang kelambu di tempat tidur jika diperlukan. 

Beruntungnya kita, ilmuwan di dunia pada tahun 2019 telah berhasil menciptakan vaksin DBD pertama meskipun memang vaksin ini direkomendasikan secara terbatas hanya pada anak usia 9-16 tahun. Marilah kita berharap dan menunggu agar para ilmuwan di dunia dapat menciptakan vaksin DBD untuk segala usia dalam waktu dekat, sehingga mungkin di waktu yang akan datang, anak cucu kita tidak akan terkena DBD lagi. 

Bagi Lemonizen yang masih harus work from home (WFH) dan sudah bosan di rumah, yuk mulai waspada dan lakukan 3M Plus seperti yang dianjurkan oleh pemerintah untuk mencegah DBD!

Artikel Terkait

Inilah 7 Manfaat Daun Sirih, Cegah dan Sembuhkan Pneumonia
Tahukah kamu? Ternyata ada banyak sekali manfaat daun sirih, termasuk untuk penyakit pneumonia..
Rizki Indra
17 September 2020
Ngobrol Bareng Raffi Ahmad, Daniel Mananta Bongkar Rahasia Gaya Hidup Sehat
Setiap hari Daniel bangun pukul 4 pagi dan menyempatkan waktu 1-1,5 jam untuk olahraga lari..
Shella Rafiqah Ully
16 September 2020
Benarkah Mandi di Malam Hari Berbahaya Bagi Kesehatan?
Mitosnya mandi malam di hari bisa menyebabkan rematik dan masuk angin, benarkah?..
dr. Alvin Wijaya
08 September 2020