Mengapa Penting Berolahraga Rutin Selama Puasa di Masa Pandemi?

16 Mei 2020 @ 21:45:20
Halo Lemonizen, apa kabarnya nih? Semoga baik-baik saja. Lemonizen mungkin sudah bosan di rumah dan semua hal sudah dilakukan, tapi apakah hari ini sudah berolahraga? Saat harus work from home (WFH) di bulan puasa seperti sekarang, disarankan untuk tetap berolahraga ya untuk menjaga kebugaran tubuh sehingga tubuh tetap aktif dan dapat beraktivitas dengan lebih baik dan semangat.

Demi mendapatkan tubuh yang sehat, tidak hanya cuma dengan obat-obatan dan vitamin, tapi yang nggak kalah penting juga dengan melakukan olahraga secara rutin.. Ada banyak jenis olahraga yang bisa Lemonizen lakukan dan dimodifikasi sesuai kebutuhan tanpa perlu mengeluarkan biaya atau pun waktu yang ekstra lama. 



Berapapun umur Lemonizen saat ini, penelitian membuktikan bahwa olahraga dapat memberikan kehidupan yang lebih sehat dan bahagia. Orang yang berolahraga rutin, berisiko lebih rendah menderita penyakit kronis atau penyakit jangka panjang seperti sakit jantung, Diabetes Mellitus Tipe 2, stroke, dan beberapa kanker. Olahraga juga dapat meningkatkan kepercayaan diri, mood, kualitas tidur dan energi, serta menurunkan stres, depresi, demensia, dan penyakit Alzheimer. 

Pada bulan puasa ini, olahraga tetap dapat dilakukan namun dengan beberapa penyesuaian agar tidak menimbulkan gangguan fisik maupun mengganggu ibadah puasa. Secara umum pada manusia dewasa, untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan berumur panjang diperlukan bergerak aktif setiap hari dan berolahraga setidaknya 150 menit per minggu. 

Kebanyakan orang menyiasati olahraga dengan melibatkannya di dalam kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki dengan cepat, bersepeda untuk menuju suatu tempat, memilih naik tangga daripada lift, dan lainnya. 

Sesuaikan Jenis Olahraga yang Kamu Lakukan dengan Detak Jantungmu Agar Tetap Aman



Olahraga juga tidak melulu hanya tentang sepak bola, bermain basket, tenis, bulu tangkis atau berolahraga di sebuah pusat gym. Dengan melakukan aktivitas fisik sederhana juga dapat dikatakan sebagai olahraga karena tubuh bergerak lebih cepat untuk meningkatkan detak jantung. 

Detak jantung menjadi acuan yang sangat penting. Saat jantung berdetak lebih cepat ketika kita berolahraga, darah yang dipompa jantung ke seluruh tubuh juga menjadi lebih banyak sehingga peredaran oksigen dan nutrisi pada darah ke seluruh tubuh menjadi semakin baik. Target detak jantung setiap orang saat berolahraga akan berbeda-beda tergantung usia, berikut acuannya. 



Kini menghitung detak jantung sendiri sudah sangat mudah dengan bantuan teknologi, misal dengan menggunakan gelang penghitung detak jantung. Perhatikan, jika detak jantungmu terlalu cepat saat berolahraga itu artinya olahraga yang sedang kamu lakukan terlalu melelahkan dan sebaiknya kamu menurunkan intensitas olahragamu. Begitu pula sebaliknya.

Saat sedang berpuasa, energi dan cairan tubuh akan berkurang dari biasanya. Sehingga olahraga berat dengan intensitas kuat yang biasanya dilakukan rutin seperti basket atau sepak bola disarankan untuk diturunkan menjadi olahraga intensitas sedang dengan durasi lebih singkat seperti jalan cepat, sepeda santai, main sepatu roda, dan lainnya. 

Olahraga di bulan puasa ini juga disarankan hanya selama 30-60 menit selama 4-5 kali per minggunya. Hal ini disebabkan oleh pemulihan tubuh dari berolahraga yang menjadi lebih panjang karena kamu sambil berpuasa

3 Rekomendasi Waktu Berolahraga Selama Puasa



Waktu terbaik berolahraga adalah sebelum sahur karena tubuh dapat mengonsumsi banyak cairan sebelum berolahraga sehingga mencegah dehidrasi. Waktu terbaik lainnya adalah setelah taraweh, karena tidak dekat dengan jam buka puasa sehingga makanan dan minuman yang telah dikonsumsi dapat terserap lebih dahulu oleh tubuh.

Waktu lainnya adalah saat setelah buka puasa tetapi sebelum tarawih, namun perlu dipertimbangkan ulang mengingat durasi waktu ini sangat singkat. Lemonizen tidak dianjurkan untuk berolahraga di jam berpuasa ya, karena tubuh yang pada dasarnya sudah kekurangan cairan dan energi, akan kehilangan lebih banyak lagi sehingga bisa menyebabkan pingsan. 

Namun terlepas kapan pun Lemonizen akan berolahraga, jika Lemonizen sudah mulai merasa pusing, mual, atau lemas, sebaiknya segera hentikan seluruh aktivitas dan beristirahat. 

Saran terakhir untuk berolahraga di bulan puasa ini, pastikan tubuh cukup mengonsumsi cairan selama waktu berbuka hingga sahur. Pastikan juga tidurmu cukup agar tubuh dapat beristirahat dan mencegah kelelahan yang berkelanjutan. Hindari olahraga dengan intensitas kuat seperti mengangkat beban, lari marathon, lari sprint, dan lainnya. Terakhir, tapi nggak kalah penting, makanlah makanan yang bergizi tinggi dalam porsi yang cukup, baik pada jam berbuka ataupun sahur, karena tubuhmu membutuhkannya.

Berolahraga di bulan puasa awalnya pasti akan terasa sangat berat. Rasa lapar, lemas, dan haus dapat menghantui terus menerus namun seiring waktu, tubuh akan beradaptasi dengan kebiasaan olahraga kita.

Tidak perlu memaksakan diri berlebihan juga karena ini bukan perlombaan. Mari jadikan Ramadan sebagai bulan baik bagi iman kita, namun juga tidak melupakan kesehatan fisik dengan berolahraga. Yuk, Lemonizen mulai berolahraga rutin untuk menjaga kesehatan terutama di masa-masa WFH ini!

Artikel kesehatan ini ditulis oleh dr. Alvin Wijaya

Artikel Terkait

Triclosan & SLS/SLES: Bahan Kimia Berpotensi Bahaya dalam Hand Sanitizer
Cek kembali, apakah hand sanitizermu mengandung dua bahan kimia berpotensi bahaya berikut?..
Shella Rafiqah Ully
10 Juli 2020
Olahraga Plank, Inilah 5 Manfaat yang Kamu Dapatkan
Plank adalah salah satu jenis olahraga yang sangat bermanfaat untuk tubuh. Inilah berbagai manfaat olahraga plank..
Rizki Indra
02 Juli 2020
Kenali Penyakit Liver, Inilah Gejala dan Cara Menghindarinya
Yuk cari tahu informasi seputar gejala liver dan cara untuk menghindarinya disini!..
Rizki Indra
02 Juli 2020