Ngobrolin Isu Kesehatan Mental Bersama Kunto Aji, Si Lemonilo Crush Januari!

20 Jan 2020 @ 17:23:33
Barangkali selama ini kita akrab dengan perilaku hidup sehat secara fisik seperti makan-makanan bergizi, olahraga rutin, atau sesederhana minum air putih delapan gelas sehari. Tapi, masih banyak diantara kita yang abai pada pentingnya kesehatan secara mental. Padahal menurut WHO (World Health Organization), seseorang dikategorikan sehat bukan hanya karena dia tidak menderita penyakit namun ketika keadaan fisik, mental, dan sosialnya sehat secara utuh.

Sebagai ekosistem hidup sehat yang ingin terus membantu masyarakat Indonesia meraih kesehatan berimbang secara fisik dan mental, Lemonilo mengajak banyak orang-orang inspiratif untuk berbagi cerita sukses mereka dengan menerapkan hidup sehat sebagai kunci. Orang-orang tersebut dengan bangga Lemonilo perkenalkan sebagai Lemonilo Crush

Awal tahun yang berbahagia ini, Lemonilo memperkenalkan Kunto Aji sebagai Lemonilo Crush Januari. Kunto Aji adalah penyanyi solo Indonesia yang sempat terkenal dengan single ‘Terlalu Lama Sendiri’ dan pada 2019 lalu berhasil meraih penghargaan album terbaik dari Anugerah Musik Indonesia (AMI Award) untuk album terbarunya 'Mantra-Mantra'. Kepada Lemonilo, Kunto Aji berbagi cerita tentang perjalanannya mengenal dan menghadapi masalah kesehatan mental.


1. Album Mantra-Mantra mengusung isu kesehatan mental. Apa yang Mas Aji coba sampaikan kepada orang-orang tentang isu ini? Apalagi isu tentang kesehatan mental belum banyak menjadi perhatian di Indonesia.

Ada dua hal; yang pertama memang awareness tentang isu kesehatan mental ini masih kurang terutama untuk Generasi Millenial ke atas (Gen X dan Baby Boomer). Sedangkan untuk Gen Z (lahir antara tahun 2005-2015—si generasi yang lebih muda) justru terpapar terlalu banyak informasi. “Jadi—ini saya diskusi dan tau ini dari psikolog—banyak mereka (Gen Z) yang datang ke psikolog karena mereka melakukan self diagnose.”

Self diagnose ini terjadi karena terlalu banyak informasi yang tersebar di sosial media dan semuanya bisa diakses dengan mudah. Kebiasaan sedikit-sedikit googling lalu merasa menemukan informasi dengan gejala yang sama, kemudian dengan gampang mendiagnosa diri mengidap depresi. Album ini adalah cara saya berkomunikasi. Saya juga punya misi tersendiri agar dua hal ini bisa teratasi.

2. Mas Aji pernah ada di masa-masa sulit, mulai dari sakit hingga kehabisan tabungan untuk berobat. Apa yang Mas Aji lakukan saat sedang tidak baik-baik saja di masa-masa sulit itu?

Saya pernah ada di masa nggak punya apa-apa, rock bottom lah istilahnya. Ya, meskipun setiap orang mungkin beda-beda cara menghadapi masa sulitnya, tapi buat saya, ketika saya ada sudah di titik nol saya merasa nggak mungkin ke bawah lagi, gitu. Jadi saya sudah pasrah, ikhlas. “Walaupun ikhlas itu bahasa yang tinggi sekali dan untuk mencapai ke sana sampai sekarang saya belum bisa.”

Di titik terendah tadi, saya benar-benar pasrah. “Yaudah, mau dikasih apa, mau diambil semuanya juga pasrah.” Tapi di masa-masa pasrah itu saya justru diberi berkah yang banyak. Saya mengenang masa-masa itu untuk saya terapkan saat merawat waras.

3. Apa yang Mas Aji lakukan untuk tetap merawat waras dan akhirnya bisa bangkit lagi menghasilkan karya seperti sekarang?

Cara merawat waras tiap orang pasti berbeda-beda. Setelah mengeluarkan album ini—Mantra-Mantra saya benar-benar tahu bahwa depresi secara klinis itu nggak bisa disembuhkan dengan omongan ikhlas seperti ini. Cuma ya, ketika kita belum sampai ke tahap sana (tahap depresi -red), Alhamdulillah bersyukur sekali cuma mendengarkan album saya atau dengan bercerita akhirnya bisa membuat yang lain jadi lebih enakan dan bisa membantu melewati masa sulit.

4. Pilu Membiru Experience diterima dengan sangat baik oleh masyarakat, bahkan sempat trending di Youtube dan ditonton lebih dari 4.7 juta kali. Apa yang Mas Aji rasakan tiap kali ada orang yang bilang mereka merasa disembuhkan lewat musik dan lirik Pilu Membiru?

Kemarin habis ngobrol sama beberapa teman psikolog, psikiater, dan dokter tentang bagaimana cara mengatasi emosi yang berlebih. Saya bersyukur dipercaya sebagai salah satu medium dan bisa mendapat begitu banyak cerita, tapi saya sendiri kan manusia biasa. Sekarang saya sudah bisa sedikit memilah secara sadar mana yang harus saya rasakan emosinya dan mana yang sudah harus dilewati saja. 

Karena segala sesuatu yang berlebihan kan nggak baik, tapi denial juga nggak baik. Jadi ya, kalau senang ya senang, kalau sedih ya sedih tapi jangan sampai berlebihan. Sekarang saya coba belajar menjadi medium aja, mungkin memang saya dibentuk, dijatuhkan sejatuh-jatuhnya biar saya siap menjadi medium. Tapi pada akhirnya, ada beberapa hal yang membuat saya butuh bantuan profesional untuk merawat waras tadi.

5. Tentu banyak hal yang dipelajari dari perjalanan Mas Aji mengenal dan menghadapi isu kesehatan mental, apa yang kira-kira bisa dibagikan ke Lemonizen?

Satu, jangan self diagnose. Kedua, kalau ada yang sedang membutuhkan bantuan cobalah temani ke profesional. Isu ini memang harus disebarkan seluas-luasnya tapi jangan sampai salah menangkapnya atau salah cara menghadapinya.



Artikel Terkait

5 Rempah Terbaik untuk Bantu Redakan Stres
Pikiran dan perasaan dalam kondisi buruk bisa menghambat aktivitas sehari-hari..
Shella Rafiqah Ully
16 September 2020
Jakarta PSBB Lagi? Tetap Semangat! 5 Tips ini Akan Membantumu Menjaga Mood
Meski harus kembali bekerja dari rumah jangan lupa untuk tetap berolahraga ya!..
Shella Rafiqah Ully
11 September 2020
Gangguan Psikotik Ketahui Gejala, Sebab dan Cara Mengatasinya
Gangguan psikotik adalah salah satu gangguan mental yang cukup umum terjadi, inilah cara mengatasinya..
Rizki Indra
03 September 2020