Siapkan Mental Hadapi New Normal, 4 Cara Ini Jadi Kuncinya!

18 Jul 2020 @ 14:24:54
Covid-19 sudah mengubah kehidupan kita dalam berbagai hal. Pertanyaannya, bagaimana kita bangkit dari krisis yang berdampak pada semua orang di muka bumi ini? Bagaimana cara kita melanjutkan hidup di era new normal

Istilah 'new normal' pertama kali muncul pada 2008 ketika krisis ekonomi melanda. Kondisi ini menggambarkan apa yang sebelumnya tidak wajar, kini menjadi wajar. Istilah new normal kemudian digunakan kembali untuk menggambarkan kehidupan kita pada masa pandemi Covid-19 ini. 

Tapi, apakah new normal akan berangsur hilang dan kita kembali menjalankan kehidupan kita sama seperti sebelum pandemi? Atau new normal ini merupakan sesuatu yang baru dan akan bertahan lama? 

Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk beradaptasi dalam situasi sulit. Kali ini Psikolog Adisti F. Soegoto akan membahas apa saja yang dapat dilakukan untuk menyesuaikan diri dalam menyambut era normal yang baru.

Kita Semua Butuh Resiliensi untuk Bisa Bangkit Kembali dan Hadapi New Normal



Dalam bahasa psikologi, resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan tetap teguh saat menghadapi situasi sulit.

Resilient thinking adalah kemampuan kita untuk berpikir lebih fleksibel terhadap situasi yang ada sehingga kita dapat menjadi lebih efektif dalam menghadapinya. Saat menghadapi suatu situasi dan tantangan, pikiran kita mengembangkan satu pola bagaimana mengatasi situasi dan tantangan tersebut.

Jika kita memiliki pola pikir yang sempit dan terbatas, kita akan segera kehabisan ide tentang apalagi yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya, berbagai perasaan tidak nyaman pun mulai timbul. 

Resilient feeling adalah bersikap fleksibel dalam menghadapi situasi yang memicu emosi. Jika kita kurang memiliki emotional resilience, akan sulit bagi kita untuk dapat berpikir jernih. Pikiran dan penilaian kita seolah dikuasai oleh emosi sehingga menyulitkan kita mencari solusi dari masalah yang ada. 

Dalam situasi pandemi begini, kurangnya emotional resilience dapat menyebabkan stres dalam diri dan bisa berdampak pada relasi kita dengan orang lain. Ketika kita resilient, kita menjadi lebih peka terhadap kondisi emosi kita, lebih mampu mengelola pikiran dan perasaan kita sehingga kita dapat bersikap lebih baik dan positif bahkan di situasi sulit. 

Resilient behavior adalah hasil dari resilient thinking dan resilient feeling. Ketika daya resiliensi kita rendah, kita akan memunculkan perilaku yang berdampak buruk bagi diri kita dan orang lain. Kita juga cenderung berpikir skenario terburuk yang mungkin terjadi, dan lupa bahwa ada rencana A, B, C, dan seterusnya yang dapat kita lakukan untuk mengatasi situasi.

Seseorang yang resilien akan jauh lebih mudah menyesuaikan diri untuk bangkit dan lebih kuat menghadapi keterpurukan.

Bagaimana mengatasi rasa takut begitu PSBB dilonggarkan?

Untuk dapat menjalankan kehidupan di era new normal dengan lebih tenang, kita perlu mengatasi rasa takut yang ada. Mulailah dari mengenali apa saja yang membuat kita takut, mengenali reaksi kita terhadap rasa takut, dan tentukan mindset apa yang akan kita gunakan untuk melangkah maju. 

1. Kenali perasaan, pikiran, dan cara anda mengatasi masalah



Bayangkan kamu akan kembali menemui teman setelah sekian lama tidak bertemu. Apa yang kamu rasakan? Apakah kamu akan merasa sangat kangen, ingin segera mengobrol atau malah justru merasa khawatir?

Amati apa saja yang kamu pikirkan dan apa saja perasaan yang muncul. Jika pemikiran tentang menemui orang membuatmu stres, kamu dapat melakukan berbagai cara untuk relaksasi seperti meditasi atau latihan mindfulness. Lakukan juga reframing atas pikiran dan perasaanmu, sehingga kamu dapat memiliki respon yang berbeda terhadap rasa takut yang ada. 

2. Terapkan positif mindset dan sikap optimis



Kita sadar bahwa apa yang kita pikirkan berkaitan dengan apa yang kita rasakan. Ketika kita memikirkan hal yang negatif, berbagai perasaan yang tidak nyaman pun muncul. 

Selama masih memiliki pemikiran negatif, maka kamu akan merasa cemas, sedih, dan frustasi. Ketika kita menerapkan mindset yang lebih positif, kita pun akan merasa lebih nyaman. Emosi positif juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap kesehatan mental kita. 

3. Tulis ulang skenario kita



Masa Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) ini merupakan waktu yang tepat untuk kita refleksi diri dan mengidentifikasi apa saja 'skenario buruk' yang kita miliki. Mengapa disebut skenario buruk? Karena kita cenderung memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi dan kita mempercayainya. Ketika kita mempercayai hal terburuk yang akan terjadi, tanpa disadari emosi dan perilaku kita juga mendukung untuk terwujudnya skenario tersebut. 

Tulis kalimat baru dan skenario baru untuk dirimu. Tulis kalimat yang membuatmu semangat, kalimat dan skenario yang dapat dicapai dan merupakan langkahmu menuju sukses. Tentukan target yang realistis bagi diri sendiri dan orang lain. 

4. Tetap sehat secara fisik dan mental



Olahragalah secara teratur. Selain membuat tubuh sehat, kamu juga akan merasa lebih nyaman. Kamu bisa melakukan mindful walk atau mindful cycling ketika jalan pagi atau bersepeda.

Pastikan juga makan makanan sehat dengan gizi seimbang. Makan berbagai buah, sayur, bahkan jamu yang mendukung daya tahan tubuh. Kamu juga harus lebih aware terhadap apa yang kamu makan. Sebisa mungkin hindari makanan olahan, makanan dengan pengawet atau zat aditif lainnya. Jangan lupa untuk banyak minum. Setidaknya minum air putih sesuai kebutuhan harian anda. 

Dukung kesehatan mentalmu dengan tetap memiliki hubungan yang bermakna. Physical distancing membuat kita tidak dapat bertemu langsung dengan keluarga, teman, dan sahabat, namun kamu bisa tetap berkomunikasi dengan orang-orang tersayang melalui media daring.

Luangkan juga waktu setiap hari untuk mensyukuri berkah atau nikmat apa saja yang kamu rasakan hari itu. Bersyukur merupakan latihan yang sangat powerful untuk menciptakan pola pikir positif dan meningkatkan kesejahteraan emosional kita. 

Saatnya bangkit  menyambut the new normal



Covid-19 memang berdampak ke kehidupan kita semua dalam berbagai aspek. Kita mungkin terjatuh atau mundur dibanding kondisi kita sebelum covid. Ingatlah, ketika kita terjatuh kita tidak terjun bebas. Ketika kita mundur, kita tidak terseret jauh ke belakang. Ada jaring pengaman yang menyelamatkan kita. 

Jaring pengaman itu bisa berupa keluarga yang suportif dan saling memperhatikan, teman-teman yang saling mendukung dan menyemangati, lingkungan tempat tinggal yang saling menjaga, support system yang kita miliki, dan lain sebagainya.

Jaring pengaman ini membuat kita lebih tangguh dalam menghadapi dan mengatasi krisis yang ada. Jadikan jaring pengaman ini sebagai kekuatan dalam menyambut the new normal. Dengan demikian, kita dapat bangkit dan siap melangkah menikmati berbagai keindahan dalam hidup.

Artikel Terkait

Kenali Jenis Penyakit Mental / Gangguan Jiwa Yang Jarang Disadari
Inilah beberapa jenis penyakit mental yang harus diwaspadai, cegah sebelum menjadi lebih buruk...
Rizki Indra
27 Juli 2020
Yuk Coba Box Breathing, Teknik Pernapasan yang Bisa Membantumu Redakan Stres
Box breathing, selain dapat meredakan stres juga dapat menenangkan suasana hati..
Shella Rafiqah Ully
26 Juli 2020
5 Tanda Kamu Sudah Melalui Hari dengan Baik dan Layak Dapat Apresiasi
Sudahkah kamu bersyukur dan berterima kasih pada diri sendiri hari ini?..
Shella Rafiqah Ully
12 Juli 2020