Stop Bullying, Ini 6 Hal yang Orang Tua Harus Lakukan Saat Anak Menjadi Korban Bullying!

12 Feb 2020 @ 17:57:12
Kita sudah tak boleh lagi tutup mata pada maraknya kasus bullying yang terjadi disekitar. Kasus bullying atau perundungan yang menggemparkan terjadi beberapa pekan lalu, menimpa MS (13) siswa SMP di Malang yang disiksa teman-teman sekolahnya hingga salah satu jari MS harus diamputasi. Hal ini tentu membawa kekhawatiran pada diri Lemomoms, lalu muncul pertanyaan apakah anak-anak Lemomoms bebas dari bullying?

Bullying tidak hanya berbentuk agresi fisik. Bullying juga bisa berbentuk kekerasan emosional, psikologis, maupun sosial (seperti pengucilan dan pengabaian). Dampak yang dialami oleh korban perundungan juga beragam, mulai dari takut ke sekolah, trauma, hingga bunuh diri. Sudah saatnya bullying mendapat perhatian serius dari berbagai lapisan masyarakat.

Saat mendapat kabar bahwa sang anak menjadi korban bullying, Lemomoms mungkin rasanya ingin langsung datang dan kita sendiri yang menyelesaikan masalah tersebut. Namun, cara yang lebih baik adalah mengajarkan anak bagaimana cara menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga mereka dapat membela dan mempertahankan dirinya di kemudian hari. Cara lain yang bisa Lemomoms lakukan antara lain:

1. Tetap tenang saat mendengarkan anak 

Dengarkan anak tanpa merasa marah atau kesal. Kesampingkan dulu emosi dalam diri dan dengarkan apa yang anak katakan. Lemomoms dapat mengucapkan kembali apa yang anak sampaikan agar anak tahu bahwa kita benar-benar menyimaknya. Lemomoms dapat bertanya kepada anak “Kamu ingin Mama bersikap bagaimana dalam menghadapi hal ini?” Jadi, Lemomoms tidak serta merta bertindak sendiri karena mungkin malah akan menambah stres atau kecemasan pada anak.

2. Sampaikan pada anak bahwa ini bukan kesalahan mereka 

Seringkali terdapat stigma yang melekat pada kasus bullying bahwa ada karakter-karakter tertentu pada anak sehingga ia dibully. Ingatkan anak bahwa dibully bukan berarti mereka lemah dan melakukan bullying bukan berarti menandakan mereka kuat. Bantu anak untuk tampil lebih percaya diri meski mereka belum merasa cukup percaya diri. Bahasa tubuh dan cara bicara memegang peranan penting untuk tampil lebih percaya diri. 

3. Ajarkan anak menghadapi pelaku bully secara tegas dan asertif

Contohkan mereka melalui role play. Tunjukkan pada anak perbedaan pengucapan kalimat “Pergi, tinggalkan aku sendiri!” sambil meringkuk dan berbisik dibandingkan dengan mengucapkan kalimat tersebut dengan badan tegap, suara yang lantang, dan pengucapan tegas “Tinggalkan aku sendiri!”


4. Sarankan anak untuk selalu bersama teman-temannya

Ingatkan ia agar tidak sendirian baik di playground, saat menunggu dijemput, atau ketika ia berpapasan dengan pelaku bullying. Pada umumnya, anak dengan perilaku agresif tidak akan mengganggu ketika anak sedang bersama teman-temannya. 

5. Ajarkan anak cara minta pertolongan ke guru saat bullying terjadi di sekolah

Jika bullying terjadi di sekolah katakan pada anak jika ia tidak berhasil mempertahankan diri ketika diganggu, ia dapat meminta bantuan kepada guru atau orang dewasa lain yang bertugas menjaga playground. Latih anak apa yang harus ia katakan saat meminta bantuan ke orang dewasa. Misalnya, “Permisi, Pak Budi. Dodi mengejar saya dan melempari batu ke arah saya. Saya sudah katakan untuk hentikan namun ia tetap melakukannya.” Jika anak terbiasa melatih kalimat ini di rumah, ia akan menyampaikannya dengan penuh keyakinan dan segera dapat pertolongan dari guru.

6. Jika terjadi di lingkungan sekolah, minta bantuan pihak sekolah untuk mencari solusi

Sekolah pada umumnya memiliki kebijakan anti bullying. Jika bullying terjadi di sekolah, Lemomoms dapat mengatur pertemuan dengan pihak sekolah untuk membahas masalah ini. Lemomoms dapat sampaikan semua fakta yang terjadi, siapa saja yang terlibat, siapa yang menyaksikan, apa yang memicu terjadinya bullying, apakah ini peristiwa pertama atau sudah berulang kali. Sampaikan kepada pihak sekolah bahwa Lemomoms membutuhkan bantuan dan kerjasama pihak sekolah untuk mencari solusi dalam melawan bullying

Sebagai orangtua, kita tentunya memiliki berbagai emosi ketika mengetahui anak kita menjadi korban bullying. Lemomoms mungkin merasa marah, terluka, merasa bersalah, merasa tidak berdaya, atau mungkin khawatir. Ingatan dan pengalaman masa kecil Lemomoms dapat membantu untuk lebih berempati pada anak. Ketika kita lebih peka dan sadar terhadap kondisi emosi kita, diharapkan kita dapat lebih proaktif dibandingkan reaktif saat menyikapi masalah bullying.

Artikel ini ditulis oleh Adisti F. Soegoto, M.Psi, psikolog anak dan seorang BFRP (Bach Foundation Registered Practitioner). Adisti menulisnya khusus untuk membantu orang tua menghadapi anak yang menjadi korban bullying.

Artikel Terkait

Pengasuhan Ayah Berperan Penting Pada Perkembangan Emosional Anak
Mengingat besarnya peran ayah yang tidak dapat digantikan oleh siapapun, yuk mulai sekarang lebih terlibat dalam pengasu..
Shella Rafiqah Ully
18 Maret 2020
Surat dari Co-Founders Lemonilo: Mari Bersama Jaga Indonesia Kita
Sejak awal kami percaya bahwa hidup sehat adalah kunci menuju generasi hebat. Untuk itu, kami terus berusaha mengembangk..
Shella Rafiqah Ully
18 Maret 2020
Kerap Disamakan dengan Flu, Ini Bahaya Coronavirus yang Harus Kamu Waspadai!
Coronavirus sudah ada sejak lama. Virus ini secara ringan akan menyebabkan flu. Namun ada juga kelompok coronavirus lain..
Shella Rafiqah Ully
16 Maret 2020