Antioksidan TBHQ Pada Makanan Instan Berisiko Sebabkan Gangguan Kesehatan?

05 Sep 2018 @ 18:44:10
Diantara banyak bahan-bahan yang dimasukkan dalam banyak produk di pasaran, TBHQ menjadi salah satu yang paling sering tercantum di daftar bahan pembuatan produk-produk tersebut. 

TBHQ (Tertiary butylhydroquinone) adalah salah satu jenis antioksidan sintetis yang digunakan untuk mencegah atau menghambat kerusakan pangan. Berbeda dengan antioksidan alami yang banyak terdapat pada sayur dan buah serta bermanfaat bagi kesehatan, TBHQ digolongkan oleh BPOM RI sebagai bahan tambahan pangan (BTP) atau zat aditif.

Zat aditif ini memiliki nilai Acceptable Daily Intake (ADI) atau jumlah maksimum yang dapat diterima tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan sebesar 0 – 0,7 mg/kg berat badan (BPOM, 2013). Nilai ADI ini ditetapkan oleh Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan pada tikus, anjing, dan manusia. 

Kontroversi TBHQ

Kontroversi TBHQ

Berbagai penelitian tentang TBHQ telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu, dengan hasil penelitian yang beragam, dan masih menjadi perdebatan hingga kini. Sebagian penelitian mengatakan bahwa paparan terhadap bahan ini aman, selama tidak melebihi batas ADI yang telah ditetapkan (JECFA, 1995). Sebagian lain mengatakan TBHQ memiliki berbagai dampak buruk bagi kesehatan. 
 
Berikut ini beberapa potensi bahaya dan dampak bagi kesehatan dari TBHQ:

1. Berpotensi mengakibatkan kanker

Berpotensi Menyebabkan Kanker Dalam Tubuh

Beberapa studi menunjukkan TBHQ dapat mengakibatkan kanker (Gharavi et al., 2007). Di dalam bukunya yang berjudul Food Antioxidants, Susan Barlow dalam Hudson (1990) menyatakan TBHQ dapat mengakibatkan kerusakan DNA dan mutasi gen. TBHQ juga secara positif dapat melakukan aktivasi pada mutasi lymphoma (sel kanker) pada tikus (PubChem Database, 2020).

2. Berpotensi mengakibatkan gangguan penglihatan, saraf, hingga kematian


TBHQ Menyebabkan Terjadinya Gejala Gangguan Saraf

Beberapa studi melaporkan adanya gangguan penglihatan pada individu yang terpapar TBHQ (PubChem Database, 2020). Penelitian pada tikus dengan dosis tinggi menunjukkan bahwa TBHQ mempengaruhi fungsi mata, menyebabkan pembesaran liver, serta mengakibatkan efek neurotoksik akut seperti kejang, kelumpuhan, tubuh kehilangan kendali, tremor, kelemahan, sesak nafas, hingga kematian (PubChem Database, 2020). Selain itu, penelitian jangka pandang menunjukkan tikus yang diberikan TBHQ dengan dosis tinggi memiliki keturunan dengan angka kematian yang lebih tinggi, dan berat badan yang lebih rendah (Hudson, 1990).

3. Berpotensi mengakibatkan timbulnya reaksi alergi

Meningkatkan Resiko Alergi Pada Tubuh Manusia Terhadap Makanan

Penelitian oleh Gultekin dan Doguc (2012) menunjukkan zat aditif antioksidan sintetis dapat menyebabkan timbulnya reaksi alergi pada kulit seperti dermatitis kontak dan urtikaria kronis. Reaksi alergi ini timbul pada individu tertentu yang memiliki sensitivitas yang lebih tinggi, dengan gejala seperti ruam merah dan gatal pada kulit.

Dimana TBHQ Dapat Ditemukan?

TBHQ banyak digunakan di Indonesia pada produk atau bahan makanan yang mengandung lemak dan minyak nabati dan hewani, margarin, mentega dan produk sejenis serta campurannya, saus, pasta dan mie, makanan ringan berbahan dasar kentang, umbi, tepung, dan kacang, serta olahan kacang (BPOM, 2013).

TBHQ juga digunakan pada berbagai makanan instan yang mengalami proses pengeringan atau dehidrasi, seperti sup instan, minuman instan, makanan instan dan ready-to-eat (Race, 2009). Selain makanan, TBHQ juga dapat ditemukan pada produk kosmetik, seperti lipstik, eyeshadow, parfum, dan skin care (PubChem Database, 2020).

Demi Kesehatan Tubuh, Hindari Konsumsi Makanan Mengandung TBHQ

ADI yang ditetapkan oleh WHO dan BPOM RI untuk penambahan TBHQ sebesar 0-0,7 mg/kgBB adalah salah satu langkah pemerintah membatasi konsumsinya.  

Sesuatu yang dibatasi karena dikhawatirkan dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, alangkah lebih bijaksana jika kita menghindarinya. Jadilah konsumen yang cerdas, bacalah label produk makanan yang akan kamu konsumsi. Hindari bahan makanan yang mengandung bahan tambahan pangan sintetis, dan perbanyak konsumsi bahan makanan alami.

Artikel kesehatan ini telah di-review oleh Ahli Gizi Winny Dhestina, S.Gz, RD

Referensi:
- Gharavi, N. et al. 2007. Chemoprotective and Carcinogenic Effects of Tert-Butylhydroquinone and Its Metabolites. Curr Drug Metab 8(1):1-7.
- Gultekin dan Doguc. 2012. Allergic and Immunologic Reactions to Food Additives. Clinical Reviews in Allergy & Immunology, 45(1), 6–29.
Hudson, B.J (ed.). 1990. Food Antioxidants. New York: Elsevier Applied Science.
- PubChem Database. 2020. Tert-Butylhydroquinone, CID=16043, National Center for Biotechnology Information. Diakses di https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/tert-butylhydroquinone#datasheet=LCSS&section=Storage-Conditions
- Race, S. 2009. Antioxidants: The Truth about BHA, BHT, TBHQ and other antioxidants used as food additives. Nothumberland: Tigmor Books.

Artikel Terkait

Kurang Minum Sebabkan Dehidrasi, Apa Gejala dan cara Mengobatinya?
Kebiasaan minum yang sangat sedikit bisa menyebabkan dehidrasi tubuh, lalu bagaimana cara jika dehidrasi sudah terlanjur..
Rizki Indra
31 Juli 2020
7 Manfaat Senam Kegel, Bagaimana Cara Melakukanya?
Senam kegel memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, khususnya bagi para wanita. Inilah berbagai manfaat tersebut...
Rizki Indra
31 Juli 2020
Apa Kabar Ayla Dimitri, Our Lemonilo Crush July Selama Pandemi?
Ayla Dimitri justru menemukan banyak hal baru bagi dirinya selama quarantine di masa pandemi..
Shella Rafiqah Ully
31 Juli 2020