Turut Diasuh Ayah, Perkembangan Kognitif Anak Menjadi Lebih Baik

18 Mar 2020 @ 12:46:12
Jika dibandingkan beberapa dekade terakhir, peran dan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak saat ini jauh mengalami perubahan. Ayah tak lagi hanya mengemban peran sebagai si pencari nafkah dan ibu kebagian melakukan pekerjaan domestik rumah tangga seperti pada pola tradisional. 

Seiring berkembangnya zaman, pembagian tugas dan tanggung jawab antara ayah dan ibu dibagi menjadi sama rata dan semua dikerjakan bersama. Ayah dan Ibu banyak yang sama-sama bekerja, sama-sama membagi tugas rumah tangga, juga bersama-sama terlibat aktif dalam pengasuhan anak. 

Penelitian mengenai peran ayah dalam perkembangan anak juga semakin banyak dilakukan. Kini, ayah tidak lagi dilihat sebagai ‘orang tua lain’ tetapi sebagai figur yang memiliki peranan penting dalam perkembangan anak. Sayangnya, masih banyak ayah yang menganggap peran mereka sebagai ‘pemain cadangan’ dalam pengasuhan anak maupun urusan domestik. Padahal, ayah memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun dalam pengasuhan anak. 

Peran Pengasuhan Ayah pada Perkembangan Kognitif Anak

Keterlibatan ayah memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan kognitif anak. Perkembangan kognitif adalah perkembangan keterampilan yang didapat anak dari proses belajar yang progresif seperti ingatan, perhatian, dan logika berpikir.

Penelitian pada bayi berusia 5 bulan menunjukkan bahwa skor perkembangan kognitif mereka lebih tinggi jika memiliki ayah yang terlibat aktif dalam pengasuhan dan sering bermain bersama anak sedangkan penelitian pada anak berusia 1 tahun menunjukkan bahwa mereka memiliki fungsi kognitif yang lebih tinggi.

Pada anak berusia 2 tahun, mereka memiliki kemampuan problem solving yang lebih baik. Pada usia 3 tahun, mereka menunjukkan skor IQ lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok anak yang ayahnya kurang terlibat secara aktif dalam pengasuhan. Anak yang ayahnya terlibat aktif dalam pengasuhan cenderung lebih sukses dalam pendidikan, meraih nilai yang lebih tinggi, memiliki performa yang lebih baik di sekolah, lebih termotivasi, dan lebih menghargai pendidikan. 

Hal ini dapat terjadi karena ayah cenderung lebih banyak berdiskusi dengan anak, lebih banyak bertanya menggunakan apa, siapa, di mana, kapan, dan bagaimana. Jenis pertanyaan ini mengajak anak untuk berkomunikasi lebih banyak sehingga meningkatkan perbendaharaan kata dan meningkatkan kemampuan verbal anak. 

Selain itu, ayah yang meluangkan waktu untuk membantu anak dalam studinya terbukti dapat meningkatkan kualitas pembelajaran anak. Para ayah juga dapat membantu perkembangan kemampuan berpikir anak dengan terlibat dalam aktivitas sosial bersama anak ataupun dengan melakukan olahraga bersama. 

Ayah juga biasanya senang memberikan tantangan baru untuk anak. Ketika anak menghadapi tantangan dan berhasil (bahkan setelah rasa frustrasi), mereka mengembangkan rasa percaya dirinya bahwa mereka mampu mengatasi kesulitan yang ada. Mengajarkan anak untuk mengatasi tantangan juga membantu anak untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Anak belajar bahwa mereka bertanggung jawab atas keberhasilan maupun kegagalan yang mereka alami, bukan lagi menyalahkan orang lain atau situasi sebagai penyebab kegagalan. 

Jadi, pembagian peran ayah dalam proses pengasuhan benar-benar penting dan mempengaruhi perkembangan kognitif anak. Yuk, para ayah makin semangat ya main bareng si kecilnya!

Artikel Terkait

5 Tips Menjaga Tubuh Tetap Sehat Selama Swa-Karantina di Rumah Aja
Penting memastikan tubuh tetap sehat di saat-saat rentan terpapar virus seperti sekarang. 5 tips sehat ini bisa kamu cob..
Shella Rafiqah Ully
30 Maret 2020
5 Cara Menggunakan Masker yang Benar untuk Mencegah Penularan Virus
Mencuci tangan dan mengonsumsi makanan bergizi adalah cara terbaik melindungi diri dari penularan COVID-19 ketimbang men..
Shella Rafiqah Ully
30 Maret 2020
Bagaimana Menjaga Mental Tetap Sehat di tengah Pandemi Coronavirus?
Kekhawatiran yang berlebihan di tengah keadaan yang tak menentu seperti sekarang akan berbahaya bagi kesehatan mental ki..
Shella Rafiqah Ully
27 Maret 2020