Untuk Semua Ibu yang Sudah Berjuang Tanpa Henti, Terima Kasih Sudah Bertahan Sejauh Ini

10 Mei 2020 @ 11:13:05
Pernahkah kamu berpikir bahwa menjadi ibu adalah pekerjaan paling berat sedunia? Tak cuma kesiapan fisik, kesiapan mental jelas harus disiapkan saat seorang perempuan akan menjadi seorang ibu.

Perjuangan seorang perempuan bahkan sudah dimulai sejak ada janin kecil yang tumbuh di rahimnya. 9 bulan setelahnya, lahirlah bayi mungil ke dunia, yang sudah pasti mengubah seluruh hidupnya.

Bukannya semakin mudah, perjuangan ibu setelah sang anak lahir ke dunia justru semakin berat. Belum lagi tuntutan lingkungan sosial yang kadang tak masuk akal. Seakan menganggap bahwa perempuan adalah manusia super yang tak boleh melakukan kesalahan sedikit pun. Blunder sekali saja, akan banyak komentar menyakitkan hati yang datang.

Kita semua sepakat, perjuangan seorang ibu tak boleh dipandang sebelah mata



Konon, perjuangan berat seorang ibu dimulai saat sang buah hati sudah terpisah dari rahimnya. Merawat seorang anak yang sudah terlahir ke dunia tak semudah teori yang ada di text book. Error and trial harus berkali-kali dihadapi.

Namun di saat yang sama, ibu selalu dituntut society untuk menampilkan performa yang sempurna dalam merawat anak. Tak dipungkiri, setelahnya ada perang batin yang dirasakan seorang ibu. Antara ingin merawat anak sesuai dengan insting atau sesuai standar yang diciptakan lingkungan sekitar.

Akhirnya segala cara bisa ibu coba, segala perjuangan pun diterjang. Keinginan seorang ibu hanya satu, ingin sang anak tumbuh sempurna. Meski dia harus berdarah-darah dalam melakoninya.

Meski berat, tapi seorang ibu tak kenal kata menyerah



Ibu mungkin manusia paling keras kepala yang pernah ada. Asalkan demi kebaikan anaknya, apapun bisa ia lakukan. Kata menyerah jelas tak ada dalam kamus hidupnya.

Ibu rela dunianya jungkir balik, siang dan malam jadi tak ada beda. Namun bagi ibu hal itu tak mengapa, asal sang anak tetap baik-baik saja. Segala cara dicoba, asal sang anak bisa tertawa. Dan ada rasa sakit yang disembunyikan, asal sang anak bisa bahagia sepanjang hidupnya.

Namun akan datang satu masa, ibu juga bisa lelah dan terpikir untuk menyerah



Sampai ada satu hal yang dilupakan. Kalau ibu juga manusia biasa, yang punya rasa lelah. Sesekali mengatakan bahwa diri ini lelah bukanlah aib yang bisa membuatmu malu.

Merasa lelah adalah hak bagi semua ibu.

Kalau merasa lelah, coba keluar dari rutinitas. Lalu sandarkan kepala sejenak saja. Untuk kembali menyadarkan diri bahwa sudah banyak beban yang dipikul. Mengambil jeda tak akan membuat nilaimu berkurang sebagai seorang ibu. Karena menyerah tak akan membuat selesai masalah.

Entah ibu rumah tangga atau ibu bekerja, semua hebat dengan masing-masing caranya



Di titik ini, perdebatan soal ibu rumah tangga dan ibu bekerja harus benar-benar dihentikan. Perempuan memang berhak memilih hal apapun yang ia ingin jalani. Namun sayang, tak semua perempuan memiliki previlege untuk memilih hal yang ingin ia lakukan.

Untuk itu, tidak memberikan penilaian yang judgemental adalah satu-satunya cara untuk mendukung sesama ibu. Tak perlu bilang bahwa ibu rumah tangga itu manja karena tak perlu sibuk bekerja, serta tak perlu bilang bahwa ibu bekerja itu abai pada keluarga hanya karena sibuk di luaran sana.

Semua ibu hebat dengan caranya masing-masing. Tak peduli ibu rumah tangga atau ibu bekerja, ia tetap jadi orang nomor satu yang berjuang demi anak-anaknya.

Teruntuk para ibu, terima kasih sudah tetap bertahan. Karena berjuang tak melulu soal bergerak, tapi bertahan dengan kondisi yang ada



Atas segala pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan, terima kasih sudah bertahan, Ibu. Terima kasih sudah bertahan menahan rasa sakit, terima kasih sudah mengorbankan banyak hal demi melihat buah hati tetap tersenyum.

Karena bertahan bukannya tidak berjuang. Bertahan justru perjuangan berat yang mungkin bisa dilakukan seorang ibu. Kamu tidak harus selalu bergerak untuk dibilang berjuang. Bertahan di kondisi sesulit apapun itu, juga bagian dari perjuangan.

Hai para ibu, cukupkanlah ekspetasi. Kamu sudah melakukannya dengan baik, sejauh ini



Turunkan ekspetasi, jika tak ingin terlalu sakit hati. Yakin bahwa selama ini kamu sudah melakukan segala sesuatunya dengan sangat baik. Jangan pikirkan standart yang dibuat orang-orang sekitar. Kamu berhak membuat standart bagi dirimu sendiri.

Kamu tak perlu menjadi ibu paling sempurna di dunia. Anak-anak hanya butuh ibu yang bahagia dalam hidup mereka.

Toh selelah apapun seorang ibu menjalani hari, ada buah hati yang paling berarti. Terima kasih sudah berjuang tanpa henti. Wahai para ibu, mari mulai dengan mencintai diri sendiri.

Artikel Terkait

5 Rempah Terbaik untuk Bantu Redakan Stres
Pikiran dan perasaan dalam kondisi buruk bisa menghambat aktivitas sehari-hari..
Shella Rafiqah Ully
16 September 2020
Jakarta PSBB Lagi? Tetap Semangat! 5 Tips ini Akan Membantumu Menjaga Mood
Meski harus kembali bekerja dari rumah jangan lupa untuk tetap berolahraga ya!..
Shella Rafiqah Ully
11 September 2020
Gangguan Psikotik Ketahui Gejala, Sebab dan Cara Mengatasinya
Gangguan psikotik adalah salah satu gangguan mental yang cukup umum terjadi, inilah cara mengatasinya..
Rizki Indra
03 September 2020